Sudah
sampai di sini saja
rasa itu menguap
cukup
tak mungkin berlanjut
Sudah
sampai di sini saja
rasa itu menguap
cukup
tak mungkin berlanjut
Posted in Uncategorized | Leave a Comment »
Tak akan berkata lagi
bungkam
diam
sudah cukup untuk kau mengerti
karena aku tak bisa beri alasan
Posted in Uncategorized | Tagged diary | Leave a Comment »
Memang seharusnya tidak diverbalkan
atau memang perlu waktu untuk itu?
di penghujung masa, kan ku jemput takdir itu
tapi ku butuh jawaban, Tuhan
Posted in Uncategorized | Tagged diary | Leave a Comment »
Senyuman
hal yang biasa memang
tiap orang bisa tersenyum
bahkan bayi sekalipun
tapi senyum malam tadi
mampu membawaku merindukan surga-Nya
inikah pertanda sebuah jawaban ?
Semoga….
Posted in Uncategorized | Tagged diary | Leave a Comment »
Sepertinya memang harus begitu..
atau tidak seharusnya begitu ?
lalu bagaimana sebaiknya ?
obrolan itu langsung ke hati
betulkah rela bisa jawab semuanya
aku pun tak pasti
Posted in Uncategorized | Tagged diary | Leave a Comment »
Tidak terbilang karena memang tak bisa dihitung
Nyaman rasa ini
tentram batin ini
tuntas amanah dengan rapi
sudah cukup
rezki hari ini lebih dari yang ku harap
terimakasih Allah
Posted in Uncategorized | Tagged diary | Leave a Comment »
Di awal tahun, ada beberapa perencanaan tentunya dibuat oleh masing-masing jiwa yang punya harapan. Begitupun aku.
Di awal tahun tlah kuikhlaskan semua harapan yang dulu mati-matian ingin kupertahankan
Di awal tahun tlah sungguh-sungguh kunikmati segala pemberian-Nya
dan di awal tahun, aku bisa melangkah dengan bahagia
karena rasa itu hanya milik Allah
Selamat datang Tahun Baru
tahun penghambaan ku sesungguhnya
Insya Allah….
Posted in Uncategorized | Tagged diary | Leave a Comment »
Tsunami 23 Desember 2007 : Isu, Kecemasan, Takdir dan Fakta
Mengikuti perkembangan di masyarakat terkait isu Tsunami yang dihembuskan oleh seorang Profesor dari Brazil lewat mimpinya dan kecemasan yang berefek pada matinya kreatifitas sebagian masyarakat Sumatra Barat dan Bengkulu membuat saya tergelitik untuk ikut memberikan pandangan. Satu pertanyaan mendasar yang belum mendapat jawaban sampai saat ini adalah : “Mengapa masyarakat mudah sekali panik?”. Kalau bicara tentang kematian, bukankah setiap yang bernyawa akan mati? .” (QS. Ali ‘Imran: 185) , lalu mengapa harus resah ? Saya pun takut mati dan setelah ditanya kembali hati kecil ini, ternyata saya tidak takut Tsunami tapi sekali lagi saya takut mati, karena setelah dievaluasi ternyata bekal yang akan dibawa ke hadapan Allah agar diakui sebagai seorang hamba yang taat belumlah terasa cukup, mana pula mungkin berharap tidak mendapat siksa apalagi masuk syurga. Sehubungan dengan isu Tsunami tanggal 23 Desember 2007 ataupun jenis kecemasan lainnya yang merasuki masyarakat ternyata ada hubungannya dengan ketakutan yang saya rasakan. Orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan meyakini bahwa amalan yang dilakukan selama hidup akan mampu mengantarkannya sebagai seorang syuhada takkan pernah takut mati, bahkan mungkin rindu akan kematian karena kematian adalah gerbang menuju pertemuan dengan Allah SWT dalam hakekat yang sebenarnya.
Kembali kepada isu yang kabar-kabarnya meresahkan masyarakat sampai-sampai ada yang memutuskan untuk meninggalkan kota/kabupaten tempat tinggalnya untuk menghindari bencana Tsunami seperti mimpi sang Profesor. Betulkah Sang Profesor bisa mentakwilkan (mengartikan mimpi)? Ah, terlalu naif jika akhirnya kita sebagai manusia beriman harus mempercayainya. Salah satu kriteria seseorang dikatakan beriman adalah ketika dia percaya kepada Rasul-Rasul utusan Allah, termasuk mukjizat yang diberikan Allah kepada para rasul-Nya. Bukankah mentakwilkan mimpi itu salah satu mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Yusuf as ? Nah, kalau kita percaya dengan mimpi sang Profesor, apakah kita masih mengimani Allah dan Rasul-Nya? Apakah kepercayaan kita terhadap mukjizat Nabi Yusuf as sudah bisa digantikan dengan keimanan yang lain? Wallaahu a’lam, silakan bertanya kepada diri sendiri. Jikapun pada akhirnya Allah berkehendak, itu bukanlah karena mimpi si Profesor tapi memang iradat Allah semata. Coba renungkan firman Allah berikut, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ” Kami telah beriman“, sedang mereka tidak diuji lagi?”.(Q.S. Al-‘Ankabût:2). Maka, saat ini iman kita sedang diuji melalui seorang Profesor dari Brazil. Di antara masyarakat yang gelisah ada juga masyarakat yang skeptis, yang menganggap bencana adalah takdir yang harus diterima begitu saja. Bahkan yang lebih ironis lagi ada yang melontarkan celutukan terhadap proses edukasi kebencanaan yang diberikan kepada masyarakat, “Untuk apa sih mengadakan persiapan segala? Mau mendahului takdir? Sudah merasa lebih hebat dari Tuhan ya?”. Tentu saja hal ini juga harus disikapi dengan bijaksana. Karena “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri….” (Q.S. Ar-Ra’d: 11). Allah memberikan ujian berupa Tsunami bukan berarti kita harus pasrah karena sesungguhnya terkandung hikmah bahwa Allah ingin menambah pengetahuan manusia. Sakit diciptakan agar manusia bisa menemukan obatnya (yang tentu saja sudah disediakan Allah), begitu juga dengan bencana, Allah ingin manusia menemukan jalan untuk bisa mengenali karakteristik alam dan beradaptasi dengan fenomena alam. “Bacalah dengan menyebut nama TuhanMu…” (Q.S. Al-‘Alaq:1). ayat pertama yang diturunkan Allah agar manusia mau belajar, baik ilmu-Nya yang tersurat maupun yang tersirat, bukannya menyerah sebelum melakukan apa-apa. Rasulullah Sang Kekasih Allah masih saja mau bersusah-susah menggali parit untuk menyelamatkan pasukannya pada perang Khandaq, apalagi kita manusia biasa yang punya banyak keterbatasan? Sudah sepatutnya kita melakukan usaha maksimal untuk mengenali ancaman gempa dan Tsunami dan terlibat aktif dalam usaha kesiapsiagaan sembari berdoa agar kita mendapat perlindungan dari Allah SWT. Setelah segala usaha yang dilakukan, maka wajib hukumnya bagi manusia untuk bertawakal dengan mempercayai takdir. Tentu saja peranan ulama sangat diharapkan untuk bisa mengisi kekosongan hati dan mengokohkan kembali keimanan yang mulai terdegradasi. Selanjutnya penting untuk membicarakan fakta yang ada, bahwa:
Semoga isu ini membawa hikmah khususnya bagi saya agar tidak takut lagi mati karena bertekad untuk menjadi hamba yang bertaqwa dengan menjaga keridhaan-Nya di setiap perkataan dan perbuatan. Amin
Dibuat oleh :
Patra Rina Dewi, M.Sc
Direktur Eksekutif Komunitas Siaga Tsunami (KOGAMI)
Jl. Batang Pasaman No. 2 Komp. GOR. A. Salim Padang
Telepon : 0751 7860280
email : farahlagi@yahoo.com
Posted in Uncategorized | Tagged 2007, 23 desember, tsunami | Leave a Comment »
Dear all!
My name is Patra, a cheerful girl from Padang city. I would like having friends from everywhere to enrich my knowledge and experience.
Posted in Uncategorized | 1 Comment »